MEDIA MUTIARA FAEDAH
5.33K subscribers
6.87K photos
1.71K videos
304 files
23.2K links
𝗖𝗵𝗮𝗻𝗻𝗲𝗹 𝗠𝗲𝗱𝗶𝗮 𝗠𝘂𝘁𝗶𝗮𝗿𝗮 𝗙𝗮𝗲𝗱𝗮𝗵
➖ Berbagi Faedah Bertabur Hikmah
Download Telegram
•┈┈┈┈┈┈••ৡ🍃ৡ•┈┈┈┈┈┈•

◎❅◎  بسْـــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

🗓  KAMIS
       ۞ 04 JUMADIL AWAL 1448 H
       ۞ 15 OKTOBER BER 2026 M

📕 نفعنا الله وإياكم بالعلم النافع والعمل الصالح
📕 اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
𝘼𝙡𝙡𝙖𝙝𝙪𝙢𝙢𝙖 𝙞𝙣𝙣𝙞 𝙖𝙨-𝙖𝙡𝙪𝙠𝙖 ‘𝙞𝙡𝙢𝙖𝙣 𝙣𝙖𝙖𝙛𝙞’𝙖 𝙬𝙖 𝙧𝙞𝙯𝙦𝙤𝙣 𝙩𝙝𝙤𝙮𝙮𝙞𝙗𝙖𝙖 𝙬𝙖 ‘𝙖𝙢𝙖𝙡𝙖𝙣 𝙢𝙪𝙩𝙖𝙦𝙤𝙗𝙗𝙖𝙡𝙖𝙖
“Ya Allah, aku memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyyib dan amalan yang diterima”[HR. Ibnu Majah no. 925, shahih]

            🌐 www.AsySyamil.com

•┈┈┈┈┈┈••ৡ🍃ৡ•┈┈┈┈┈┈•
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
🇫 🇦 🇪 🇩 🇦 🇭  🇵 🇦 🇬 🇮 

KELOMPOK YANG PALING SESAT DAN KELOMPOK YANG DI ATAS JALAN YANG LURUS

❁ https://chat.whatsapp.com/K7LifmALY6N0DtReXnQZy8?mode=wwc

🎙️ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

فليس الضلال والغي في طائفة من طوائف الأمة أكثر منه في الرافضة، كما أن الهدى والرشاد والرحمة ليس في طائفة من طوائف الأمة أكثر منه في أهل الحديث والسنة المحضة، الذين لا ينتصرون إلا لرسول الله صلى الله عليه وسلم، فإنهم خاصته، وهو إمامهم المطلق الذي لا يغضبون لقول غيره إلا إذا اتبع قوله، ومقصودهم نصر الله ورسوله.

"Tidak ada kesesatan dan penyimpangan yang terdapat pada satu kelompok di antara berbagai kelompok umat ini yang lebih banyak dan lebih besar dibandingkan dengan yang terdapat pada Rafidhah (Syi'ah).

Sebagaimana petunjuk, kelurusan, dan rahmat, tidaklah terdapat pada satu kelompok di antara berbagai kelompok umat ini yang lebih banyak dan lebih besar dibandingkan dengan yang terdapat pada Ahlul Hadits dan Ahlus Sunnah yang murni, yang mana tidak ada yang mereka bela kecuali Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Mereka adalah orang-orang khusus Beliau dan Beliau adalah imam mutlak bagi mereka, yang mana mereka tidaklah marah dalam membela suatu perkataan selain perkataan Beliau, kecuali jika perkataan tersebut mengikuti dan sesuai dengan perkataan Beliau. Dan tujuan mereka dari melakukan semua itu adalah semata-mata untuk membela Allah dan Rasul-Nya."

📚 Minhajus Sunnatin Nabawiyyah; jld. 6 hlm. 368

🌐 #https://xn--r1a.website/hikmahsalafiyyah

📮 𝗠𝗘𝗗𝗜𝗔 𝗠𝗨𝗧𝗜𝗔𝗥𝗔 𝗙𝗔𝗘𝗗𝗔𝗛
🌐 Channel t.me/MutiaraFaedah
🗳 bit.ly/Asy-SyamilcomDonasi
🛰 𝐀𝐩𝐩 bit.ly/AsySyamilApp
📱𝐀𝐝𝐦𝐢𝐧 082369896570
SYIA'H RAFIDHAH: SEKTE YANG PALING BANYAK SISI PENYIMPANGANNYA

❁ https://chat.whatsapp.com/K7LifmALY6N0DtReXnQZy8?mode=wwc

🎙️ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

فَلَيْسَ الضَّلَالُ وَالْغَيُّ فِي طَائِفَةٍ مِنْ طَوَائِفِ الْأُمَّةِ أَكْثَرَ مِنْهُ فِي الرَّافِضَةِ، كَمَا أَنَّ الْهُدَى وَالرَّشَادَ وَالرَّحْمَةَ لَيْسَ فِي طَائِفَةٍ مِنْ طَوَائِفِ الْأُمَّةِ أَكْثَرَ مِنْهُ فِي أَهْلِ الْحَدِيثِ وَالسُّنَّةِ الْمَحْضَةِ.

"Tidak ada satu kelompok pun yang kesesatan dan penyimpangannya lebih banyak daripada Syiah Rafidhah."

Sebagaimana pula tidak ada satu kelompok pun yang petunjuk, bimbingan, dan kasih sayangnya lebih banyak daripada Ahlul Hadits dan Ahlus Sunnah yang murni."

📚 Sumber: Minhajus Sunnah (6/368)

📮 𝗠𝗘𝗗𝗜𝗔 𝗠𝗨𝗧𝗜𝗔𝗥𝗔 𝗙𝗔𝗘𝗗𝗔𝗛
🌐 Channel t.me/MutiaraFaedah
🗳 bit.ly/Asy-SyamilcomDonasi
🛰 𝐀𝐩𝐩 bit.ly/AsySyamilApp
📱𝐀𝐝𝐦𝐢𝐧 082369896570
SYIAH DAN PARA SAHABAT NABI ﷺ: APA KATA KITAB-KITAB MEREKA?

❁ https://chat.whatsapp.com/K7LifmALY6N0DtReXnQZy8?mode=wwc

Banyak orang mengenal Syiah dengan satu identitas: kelompok yang mengaku mencintai dan mengikuti Ahlul Bait, keluarga Nabi ﷺ.

Namun, ada satu pertanyaan penting yang perlu diajukan:

Bagaimana sebenarnya sikap Syiah terhadap para sahabat Nabi ﷺ?

Pertanyaan ini semestinya tidak dijawab hanya dengan prasangka atau perkataan pihak luar. Salah satu cara yang lebih adil adalah melihat langsung apa yang disebutkan dalam literatur Syiah sendiri.

Di antara riwayat yang terdapat dalam kitab-kitab mereka terdapat pernyataan yang sangat keras tentang para sahabat. Bahkan disebutkan bahwa mayoritas manusia dianggap murtad setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, dan hanya beberapa orang yang dikecualikan.

Lalu, siapa mereka?

Dan bagaimana dengan Ali bin Abi Thalib, Al-Hasan, Al-Husain, Al-Abbas, Ibnu Abbas, serta Ahlul Bait lainnya?

Mari kita melihatnya.

Para Sahabat dalam Pandangan Islam

Sebelum membahas riwayat tersebut, perlu diketahui bahwa Ahlus Sunnah memiliki prinsip yang jelas dalam memandang para sahabat Nabi ﷺ.

Allah Ta’ala berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Ansar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya.” (QS. At-Taubah: 100)

Allah juga memuji para sahabat yang berbaiat kepada Nabi ﷺ:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ

“Sungguh, Allah telah meridai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.” (QS. Al-Fath: 18)

Maka, mencintai para sahabat Nabi ﷺ bukanlah sekadar persoalan sejarah. Ia berkaitan dengan bagaimana seorang Muslim memahami pujian Allah dan Rasul-Nya terhadap generasi pertama umat ini.

Lalu, bagaimana dengan literatur Syiah?

Mereka berkata:

إِنَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ ارْتَدُّوا بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ غَيْرَ أَرْبَعَةٍ

“Sesungguhnya seluruh manusia murtad setelah Rasulullah ﷺ, kecuali empat orang.” (Lihat: Kitab Sulaim bin Qais Al-‘Amiri, hlm. 92)

Perhatikan redaksinya.

Yang dibicarakan bukan sekadar perselisihan politik setelah wafatnya Nabi ﷺ. Redaksinya menggunakan istilah ارْتَدُّوا: mereka murtad.

Jika benar demikian, maka pertanyaannya menjadi sangat serius:

Siapa saja yang dianggap tetap berada di atas Islam? Dan bagaimana nasib para sahabat lainnya?

Namun, ternyata riwayat semacam ini tidak berhenti pada satu kitab.

Hanya Tiga Sahabat?

Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini, salah satu tokoh penting dalam literatur Syiah, juga menukil:

كَانَ النَّاسُ أَهْلَ رِدَّةٍ بَعْدَ النَّبِيِّ إِلَّا ثَلَاثَةً: الْمِقْدَادُ بْنُ الْأَسْوَدِ، وَأَبُو ذَرٍّ الْغِفَارِيُّ، وَسَلْمَانُ الْفَارِسِيُّ.

“Manusia berada dalam keadaan murtad setelah Nabi, kecuali tiga orang: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi.” (Lihat: Ar-Raudhoh min al-Kafi 8/245)

Riwayat semacam ini juga dinukil dalam pembahasan literatur Syiah, bahkan disebutkan oleh Al-Majlisi dengan redaksi bahwa setelah wafat Rasulullah ﷺ, seluruh manusia binasa kecuali tiga orang: Abu Dzar, Al-Miqdad, dan Salman. (Lihat: Hayatul Qulub 2/640)

Di sini muncul sebuah pertanyaan yang tidak ringan:

Jika yang selamat hanya tiga orang, bagaimana dengan Ahlul Bait sendiri?

Bagaimana dengan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu?

Bagaimana dengan Al-Hasan dan Al-Husain radhiyallahu ‘anhuma?

Bagaimana dengan Al-Abbas, paman Nabi ﷺ?

Bagaimana dengan Ibnu Abbas, sepupu Nabi ﷺ?

Bagaimana pula dengan kerabat dan orang-orang yang dekat dengan Rasulullah ﷺ lainnya?

Pertanyaan ini menjadi semakin penting karena klaim utama Syiah adalah kecintaan dan pengagungan terhadap Ahlul Bait.

Bahkan Ada Riwayat tentang Kembalinya Manusia kepada Kejahiliahan

Al-Kulaini –tokoh besar Syi’ah– menggambarkan keadaan manusia setelah wafat Rasulullah ﷺ:
إِنَّ النَّاسَ عَادُوا بَعْدَ مَا قُبِضَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَهْلَ جَاهِلِيَّةٍ، إِنَّ الْأَنْصَارَ اعْتَزَلَتْ فَلَمْ تَعْتَزِلْ بِخَيْرٍ، جَعَلُوا يُبَايِعُونَ سَعْدًا وَهُمْ يَرْتَجِزُونَ ارْتِجَازَ الْجَاهِلِيَّةِ: يَا سَعْدُ! أَنْتَ الْمُرَجَّأُ، وَشَعْرُكَ الْمُرَجَّلُ، وَفَحْلُكَ الْمُرَجَّمُ.

“Sesungguhnya manusia kembali menjadi seperti orang-orang jahiliah setelah Rasulullah ﷺ wafat.

Sesungguhnya kaum Anshar memisahkan diri—maksudnya, dari Abu Bakar—namun mereka tidak memisahkan diri dalam kebaikan.

Mereka mulai membaiat Sa‘d, sambil melantunkan syair sebagaimana lantunan orang-orang jahiliah:

‘Wahai Sa‘d! Engkau adalah orang yang ditangguhkan, rambutmu tersisir rapi, dan pejantanmu adalah yang dilempari.’” (Lihat: ar-Roudhoh min al-Kafi 2/296)

Artinya, persoalan yang digambarkan oleh riwayat tersebut bukan sekadar bahwa sebagian sahabat melakukan kesalahan dalam masalah politik. Tetapi digambarkan sebagai kembalinya manusia kepada keadaan jahiliah setelah wafatnya Rasulullah ﷺ.

Jika demikian, maka gambaran tentang generasi yang hidup bersama Rasulullah ﷺ menjadi sangat berbeda dengan gambaran yang terdapat dalam Al-Qur’an As-Sunnah dan buku-buku siroh.

Kenyataan sesungguhnya justru Allah memuji kaum Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Bahkan Ada yang Mempertanyakan Keislaman Mayoritas Bangsa Arab

Bahan yang dinukil juga menyebutkan perkataan seorang penulis Syiah kontemporer yang menggambarkan bahwa bangsa Arab tidak beriman kepada Muhammad ﷺ kecuali setelah dakwah Islam sampai kepada mereka.

Di dalamnya disebutkan bahwa sebagian orang masuk Islam karena takut, sebagian karena terpaksa, sebagian lagi karena keadaan yang menghimpit mereka.

Bahkan disebutkan:

وَلَمْ يَدْخُلْ فِي الْإِسْلَامِ أَحَدٌ بِدَلَالَةِ عَقْلِهِ إِلَّا شَخْصِيَّةٌ وَاحِدَةٌ

“Tidak ada seorang pun yang masuk Islam berdasarkan petunjuk akalnya kecuali satu orang.”

Yang dimaksud adalah Salman Al-Farisi. (Lihat: asy-Syi’ah was-Sunnah fil Mizan, hlm. 20-21)

Pernyataan seperti ini tentu menimbulkan pertanyaan besar tentang bagaimana generasi sahabat secara keseluruhan dipandang.

Padahal, sejarah Islam menunjukkan bahwa para sahabat berasal dari berbagai latar belakang. Mereka beriman kepada Rasulullah ﷺ, berjihad bersamanya, berhijrah, mempertaruhkan harta dan jiwa, serta menyebarkan Islam setelah beliau wafat.

Tafsir Al-Qummi tentang Para Sahabat

Dalam bahan yang sama juga disebutkan tafsir Al-Qummi terhadap firman Allah:

وَحَسِبُوا أَلَّا تَكُونَ فِتْنَةٌ فَعَمُوا وَصَمُّوا ثُمَّ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ عَمُوا وَصَمُّوا كَثِيرٌ مِنْهُمْ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ

“Mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu cobaan, sehingga mereka menjadi buta dan tuli. Kemudian Allah menerima tobat mereka, tetapi kemudian banyak di antara mereka menjadi buta dan tuli. Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Ma’idah: 71)

Dalam tafsir yang dinukil tersebut, ayat ini dikaitkan dengan sikap para sahabat terhadap Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu.

Disebutkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ masih hidup, mereka “buta dan tuli” dalam pengertian tertentu, kemudian setelah beliau wafat dan Ali menjadi pemimpin, mereka kembali “buta dan tuli” terhadapnya hingga saat itu. (Lihat: Tafsir Al-Qummi 1/175)

Dengan demikian, muncul sebuah pola yang sama: persoalan utama bukan hanya kritik terhadap individu sahabat, tetapi penilaian yang sangat negatif terhadap mayoritas generasi yang hidup bersama Rasulullah ﷺ.

Lalu, Bagaimana dengan Klaim Mengikuti Ahlul Bait?

Di sinilah letak persoalan yang perlu direnungkan.

Syiah mengidentifikasikan dirinya dengan kecintaan kepada Ahlul Bait. Tetapi Ahlul Bait adalah bagian dari generasi pertama umat Islam yang hidup bersama para sahabat.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu hidup bersama Abu Bakar dan Umar radhiyallahu’anhuma.

Al-Hasan dan Al-Husain radhiyallahu’anhuma hidup di tengah para sahabat Nabi ﷺ.

Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma adalah sahabat Nabi ﷺ sekaligus kerabat dekat Ali radhiyallahu’anhu.
Maka, ketika sebagian literatur menampilkan gambaran bahwa mayoritas sahabat murtad atau kembali kepada jahiliah setelah wafat Rasulullah ﷺ, pertanyaan yang layak diajukan adalah:

Apakah gambaran tersebut benar-benar mencerminkan sikap Ahlul Bait terhadap generasi sahabat?

Sebab, mencintai Ahlul Bait seharusnya tidak hanya dibuktikan dengan mengagungkan keluarga Nabi ﷺ, tetapi juga dengan memahami bagaimana mereka sendiri memandang generasi yang hidup bersama Rasulullah ﷺ.


Penutup

Para sahabat adalah generasi yang dipilih Allah untuk menemani Nabi-Nya ﷺ.

Mereka mendengar wahyu langsung dari Rasulullah ﷺ, shalat di belakang beliau, berjihad bersamanya, membela agama dengan harta dan jiwa, lalu membawa Islam ke berbagai penjuru dunia.

Karena itu, ketika kita menemukan literatur yang memberikan penilaian sangat keras terhadap mayoritas mereka, seorang Muslim patut bertanya:

Apakah pandangan tersebut sesuai dengan Al-Qur’an?

Apakah sesuai dengan sunnah Rasulullah ﷺ?

Dan yang tidak kalah penting: apakah sesuai dengan sikap Ahlul Bait yang sebenarnya?

Cinta kepada Ahlul Bait tidak boleh dibangun dengan membenci para sahabat. Sebab Nabi ﷺ tidak mengajarkan umatnya untuk mempertentangkan kecintaan kepada keluarga beliau dengan kecintaan kepada para sahabatnya.

Justru generasi terbaik umat ini adalah mereka yang mencintai Rasulullah ﷺ, mencintai Ahlul Bait beliau, sekaligus menghormati dan mencintai para sahabatnya.

Semoga Allah menjaga hati kita dari ghuluw kepada siapa pun, dan menanamkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, Ahlul Bait beliau, serta seluruh sahabatnya. Aamiin.

Tim Shahihfiqih, 21 September 2026 M / 8 Rabi’ul Akhir 1448 H

📮 𝗠𝗘𝗗𝗜𝗔 𝗠𝗨𝗧𝗜𝗔𝗥𝗔 𝗙𝗔𝗘𝗗𝗔𝗛
🌐 Channel t.me/MutiaraFaedah
🗳 bit.ly/Asy-SyamilcomDonasi
🛰 𝐀𝐩𝐩 bit.ly/AsySyamilApp
📱𝐀𝐝𝐦𝐢𝐧 082369896570
•┈┈┈┈┈┈••ৡ🍃ৡ•┈┈┈┈┈┈•

◎❅◎  بسْـــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

🗓  JUM'AT
       ۞ 05 JUMADIL AWAL 1448 H
       ۞ 16 OKTOBER BER 2026 M

📕 نفعنا الله وإياكم بالعلم النافع والعمل الصالح
📕 اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
𝘼𝙡𝙡𝙖𝙝𝙪𝙢𝙢𝙖 𝙞𝙣𝙣𝙞 𝙖𝙨-𝙖𝙡𝙪𝙠𝙖 ‘𝙞𝙡𝙢𝙖𝙣 𝙣𝙖𝙖𝙛𝙞’𝙖 𝙬𝙖 𝙧𝙞𝙯𝙦𝙤𝙣 𝙩𝙝𝙤𝙮𝙮𝙞𝙗𝙖𝙖 𝙬𝙖 ‘𝙖𝙢𝙖𝙡𝙖𝙣 𝙢𝙪𝙩𝙖𝙦𝙤𝙗𝙗𝙖𝙡𝙖𝙖
“Ya Allah, aku memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyyib dan amalan yang diterima”[HR. Ibnu Majah no. 925, shahih]

            🌐 www.AsySyamil.com

•┈┈┈┈┈┈••ৡ🍃ৡ•┈┈┈┈┈┈•
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
🇫 🇦 🇪 🇩 🇦 🇭  🇯 🇺 🇲 🇦 🇹 

❁ https://chat.whatsapp.com/G63K9OvmHSw7ddWf0uOTVf

PERBANYAK SHALAWAT ATAS NABI DI HARI JUM'AT

Allah ﷻ berfirman :

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi.

Wahai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab : 56)


🎙️ Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

“Termasuk buah dari bershalawat kepada Nabi ﷺ adalah penyebab dikokohkannya kaki ketika di atas shirath dan ketika melewatinya.”

📕 (Jala'ul afham: 453)


HIKMAH DISUNNAHKANNYA SHOLAWAT PADA HARI JUM'AT

🎙️ Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah menjelaskan,

اﺳﺘﺤﺒﺎﺏ ﻛﺜﺮﺓ اﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻴﻪ ﻭﻓﻲ ﻟﻴﻠﺘﻪ، ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: «ﺃﻛﺜﺮﻭا ﻣﻦ اﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻲ ﻳﻮﻡ اﻟﺠﻤﻌﺔ ﻭﻟﻴﻠﺔ اﻟﺠﻤﻌﺔ».

"Disunnahkan memperbanyak sholawat bagi Rasulullah ﷺ pada hari (Jum'at) ini juga malamnya. Berdasarkan sabda beliau ﷺ,

أَكثِروا منَ الصَّلاةِ عليَّ يومِ الجمعةِ وليلةِ الجمعةِ

“Hendaklah kalian memperbanyak sholawat bagiku pada hari Jum'at dan malam Jum'at.”

ﻭﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺳﻴﺪ اﻷﻧﺎﻡ، ﻭﻳﻮﻡ اﻟﺠﻤﻌﺔ ﺳﻴﺪ اﻷﻳﺎﻡ، ﻓﻠﻠﺼﻼﺓ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻲ ﻫﺬا اﻟﻴﻮﻡ ﻣﺰﻳﺔ ﻟﻴﺴﺖ ﻟﻐﻴﺮﻩ ﻣﻊ ﺣﻜﻤﺔ ﺃﺧﺮﻯ ﻭﻫﻲ ﺃﻥ ﻛﻞ ﺧﻴﺮ ﻧﺎﻟﺘﻪ ﺃﻣﺘﻪ ﻓﻲ اﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭاﻵﺧﺮﺓ، ﻓﺈﻧﻤﺎ ﻧﺎﻟﺘﻪ ﻋﻠﻰ ﻳﺪﻩ،

Sementara Rasulullah ﷺ sang pemimpin umat manusia, sedangkan hari Jum'at adalah hari terkemuka. Sehingga bersholawat kepada beliau pada hari ini menjadi hal spesial yang tidak didapati pada hari lainnya. Ditambah lagi dengan adanya hikmah lainnya, yaitu; bahwa semua nikmat yang diperoleh umat beliau di dunia dan di akhirat bisa mereka dapatkan melalui peran campur tangan beliau ﷺ.

ﻓﺠﻤﻊ اﻟﻠﻪ ﻷﻣﺘﻪ ﺑﻪ ﺑﻴﻦ ﺧﻴﺮﻱ اﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭاﻵﺧﺮﺓ، ﻓﺄﻋﻈﻢ ﻛﺮاﻣﺔ ﺗﺤﺼﻞ ﻟﻬﻢ، ﻓﺈﻧﻤﺎ ﺗﺤﺼﻞ ﻳﻮﻡ اﻟﺠﻤﻌﺔ،

Sehingga Allah menggabungkan dengan disunnahkannya sholawat tersebut kebaikan dunia dan akhirat. Jadi diperolehnya kemuliaan yang paling agung dapat mereka raih pada hari Jum'at.

ﻓﺈﻥ ﻓﻴﻪ ﺑﻌﺜﻬﻢ ﺇﻟﻰ ﻣﻨﺎﺯﻟﻬﻢ ﻭﻗﺼﻮﺭﻫﻢ ﻓﻲ اﻟﺠﻨﺔ، ﻭﻫﻮ ﻳﻮﻡ اﻟﻤﺰﻳﺪ ﻟﻬﻢ ﺇﺫا ﺩﺧﻠﻮا اﻟﺠﻨﺔ، ﻭﻫﻮ ﻳﻮﻡ ﻋﻴﺪ ﻟﻬﻢ ﻓﻲ اﻟﺪﻧﻴﺎ، ﻭﻳﻮﻡ ﻓﻴﻪ ﻳﺴﻌﻔﻬﻢ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺑﻄﻠﺒﺎﺗﻬﻢ ﻭﺣﻮاﺋﺠﻬﻢ، ﻭﻻ ﻳﺮﺩ ﺳﺎﺋﻠﻬﻢ،

Karena pada hari itulah mereka akan dibangkitkan menuju tempat tinggal akhirnya sekaligus istana-istana mereka di surga (al Jannah). Hari tersebut juga hari mereka memperoleh tambahan karunia apabila mereka telah masuk al Jannah. Hari itu adalah hari raya bagi mereka di dunia pula. Sekaligus hari di kala Allah menolong pemenuhan berbagai permohonan dan kebutuhan mereka dan tidak ditolak orang yang meminta dari kalangan mereka.

ﻭﻫﺬا ﻛﻠﻪ ﺇﻧﻤﺎ ﻋﺮﻓﻮﻩ ﻭﺣﺼﻞ ﻟﻬﻢ ﺑﺴﺒﺒﻪ ﻭﻋﻠﻰ ﻳﺪﻩ، ﻓﻤﻦ ﺷﻜﺮﻩ ﻭﺣﻤﺪﻩ ﻭﺃﺩاء اﻟﻘﻠﻴﻞ ﻣﻦ ﺣﻘﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻥ ﻧﻜﺜﺮ ﻣﻦ اﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻲ ﻫﺬا اﻟﻴﻮﻡ ﻭﻟﻴﻠﺘﻪ.

Dan semua keistimewaan ini hanya mereka kenali dan mereka raih dengan sebab dakwah beliau dan perjuangan campur tangan beliau ﷺ. Jadi barang siapa yang berusaha menunaikan rasa terimakasih dan pujian bagi beliau serta menunaikan sebagian kecil dari hak beliau ﷺ, hendaknya kita memperbanyak sholawat bagi beliau pada hari Jum'at ini demikian juga pada malam harinya." (Zad Al Ma'ad, 1/364)


📮 𝗠𝗘𝗗𝗜𝗔 𝗠𝗨𝗧𝗜𝗔𝗥𝗔 𝗙𝗔𝗘𝗗𝗔𝗛
🌐 Channel t.me/MutiaraFaedah
🗳 bit.ly/Asy-SyamilcomDonasi
🛰 𝐀𝐩𝐩 bit.ly/AsySyamilApp
💠️ 𝐅𝐁 bit.ly/MutiaraFaedah
📱𝐀𝐝𝐦𝐢𝐧 082369896570
MEWANGIAN PAKAIAN DI HARI JUM'AT

❁ https://chat.whatsapp.com/G63K9OvmHSw7ddWf0uOTVf

🎙️ Dahulu 'Abdullah bin Umar bin Al Khattab radhiyallahu 'anhuma sering mengharumkan pakaian beliau dengan bukhur (dupa yang di bakar) di setiap Jum'at.

📚 Ibnu abi Syaibah dalam al-Mushannaf, 5591

🌐https://xn--r1a.website/baynoonanet/78155

📮 𝗠𝗘𝗗𝗜𝗔 𝗠𝗨𝗧𝗜𝗔𝗥𝗔 𝗙𝗔𝗘𝗗𝗔𝗛
🌐 Channel t.me/MutiaraFaedah
🗳 bit.ly/Asy-SyamilcomDonasi
🛰 𝐀𝐩𝐩 bit.ly/AsySyamilApp
💠️ 𝐅𝐁 bit.ly/MutiaraFaedah
📱𝐀𝐝𝐦𝐢𝐧 082369896570
TINGKATAN ORANG YANG MENDATANGI SHALAT JUM'AT

❁ https://chat.whatsapp.com/G63K9OvmHSw7ddWf0uOTVf

🎙️ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَـا قَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَـامِسَةِ فَكَأَنَّمَـا قَرَّبَ بَيْضَةً، فَإِذَا خَرَجَ اْلإِمَـامُ حَضَـرَتِ الْمَلاَئِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ))

“Barangsiapa mandi pada hari Jum’at seperti mandi junub kemudian dia berangkat ke masjid, maka seakan-akan dia berkurban dengan unta.

Barangsiapa berangkat pada waktu kedua, maka seakan-akan dia berkurban dengan sapi.

Barangsiapa berangkat pada waktu ketiga, maka seakan-akan dia berkurban dengan kambing yang bertanduk.

Barangsiapa berangkat pada waktu keempat, maka seakan-akan dia berkurban dengan ayam.

Dan barangsiapa berangkat pada waktu kelima, maka seakan-akan dia berkurban dengan telur.

Jika imam (khatib) telah datang, maka Malaikat akan hadir untuk mendengarkan Khutbah.”

📚 HR. al-Bukhari (no. 881) dan Muslim (no. 850).

📮 𝗠𝗘𝗗𝗜𝗔 𝗠𝗨𝗧𝗜𝗔𝗥𝗔 𝗙𝗔𝗘𝗗𝗔𝗛
🌐 Channel t.me/MutiaraFaedah
🗳 bit.ly/Asy-SyamilcomDonasi
🛰 𝐀𝐩𝐩 bit.ly/AsySyamilApp
💠️ 𝐅𝐁 bit.ly/MutiaraFaedah
📱𝐀𝐝𝐦𝐢𝐧 082369896570
🇵  🇷  🇴  🇬  🇷  🇦  🇲 
                  🇦 🇸 🇾 🇸 🇾 🇦 🇲 🇮 🇱 🇨 🇴 🇲

 
📮 𝗣𝗥𝗢𝗚𝗥𝗔𝗠 𝗗𝗔𝗞𝗪𝗔𝗛 𝗗𝗔𝗡 𝗦𝗢𝗦𝗜𝗔𝗟
📮 𝗪𝗔𝗞𝗔𝗙 𝟭𝟬𝟬𝟬 𝗠𝗨𝗦𝗛𝗔𝗙 𝗔𝗟 𝗤𝗨𝗥'𝗔𝗡
📮 𝗗𝗔𝗥𝗨𝗥𝗔𝗧 𝗞𝗘𝗠𝗔𝗡𝗨𝗦𝗜𝗔𝗔𝗡 𝗣𝗔𝗟𝗘𝗦𝗧𝗜𝗡𝗔
📮 𝗗𝗔𝗥𝗨𝗥𝗔𝗧 𝗔𝗜𝗥 𝗕𝗘𝗥𝗦𝗜𝗛 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗗𝗔𝗘𝗥𝗔𝗛 𝗞𝗘𝗞𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗡
📮 𝗣𝗘𝗗𝗨𝗟𝗜 𝗚𝗘𝗠𝗣𝗔 𝗡𝗧𝗧
📮 𝗭𝗔𝗞𝗔𝗧 𝗜𝗡𝗙𝗔𝗞 𝗗𝗔𝗡 𝗦𝗘𝗗𝗘𝗞𝗔𝗛
📮 𝗣𝗥𝗢𝗚𝗥𝗔𝗠 𝗦𝗘𝗗𝗘𝗞𝗔𝗛 𝗕𝗘𝗥𝗔𝗦
📮 𝗠𝗘𝗡𝗬𝗔𝗟𝗨𝗥𝗞𝗔𝗡 𝗛𝗔𝗥𝗧𝗔 𝗥𝗜𝗕𝗔
📮 𝗧𝗔'𝗔𝗪𝗨𝗡 𝗗𝗔𝗞𝗪𝗔𝗛 𝗗𝗔𝗡 𝗦𝗢𝗦𝗜𝗔𝗟
📮 𝗬𝗨𝗨𝗞 𝗠𝗘𝗡𝗝𝗔𝗗𝗜 𝗗𝗢𝗡𝗔𝗧𝗨𝗥 𝗧𝗘𝗧𝗔𝗣
📮 𝗗𝗢𝗡𝗔𝗦𝗜 𝗣𝗨𝗟𝗦𝗔 𝗗𝗔𝗞𝗪𝗔𝗛 & 𝗦𝗢𝗦𝗜𝗔𝗟
📮 𝗣𝗜𝗣𝗔𝗡𝗜𝗦𝗔𝗦𝗜 𝗧𝗨𝗟𝗨𝗡𝗚𝗔𝗚𝗨𝗡𝗚

🌏 𝗞𝗘𝗨𝗧𝗔𝗠𝗔𝗔𝗡 𝗜𝗡𝗙𝗔𝗤 𝗗𝗔𝗡 𝗦𝗘𝗗𝗘𝗞𝗔𝗛

🎞 𝗜𝗞𝗨𝗧𝗜 𝗨𝗣𝗗𝗔𝗧𝗘 𝗟𝗜𝗣𝗨𝗧𝗔𝗡𝗡𝗬𝗔 𝗡𝗬𝗔 ... 𝗗𝗜 𝗦𝗜𝗡𝗜 🔍